
gasanbalangan.online– Pasal pertama dari Qasidah Burdah karya Imam al-Bushiri menjadi salah satu bagian paling menyentuh dalam sastra Islam klasik. Bagian ini menggambarkan betapa dalamnya cinta dan kerinduan penyair kepada Nabi Muhammad ﷺ, disertai pergulatan batin dalam melawan hawa nafsu dan dorongan duniawi.
Dalam bait-bait awalnya, Imam al-Bushiri menuturkan kisah hati yang diliputi rasa rindu kepada Rasulullah ﷺ hingga membuat air matanya mengalir. Cinta itu begitu kuat hingga tak dapat disembunyikan, menjadi api yang membara dalam dada seorang hamba yang ingin selalu dekat dengan Nabinya.
Namun, di tengah keindahan cinta tersebut, sang penyair juga menyadari kelemahan dirinya. Ia menggambarkan bagaimana hawa nafsu kerap menjerumuskan manusia ke dalam kelalaian, menjauhkan dari ketaatan kepada Allah. Melalui pengakuan dan penyesalan, al-Bushiri mengajak umat Islam untuk melakukan muhasabah diri.
Makna mendalam dari pasal pertama ini adalah ajakan untuk menundukkan nafsu dan menumbuhkan cinta sejati kepada Rasulullah ﷺ. Cinta yang tulus tidak hanya diucapkan dengan kata, tetapi diwujudkan dalam amal, ibadah, dan pengendalian diri.
Sebagai karya sastra yang penuh nilai spiritual, Qasidah Burdah tidak hanya berisi pujian kepada Nabi, tetapi juga refleksi tentang perjalanan rohani manusia. Pasal pertama menjadi pintu pembuka menuju penyucian jiwa dan penguatan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.
Hingga kini, Qasidah Burdah tetap dibacakan di berbagai majelis, pesantren, dan acara keagamaan sebagai bentuk kecintaan umat kepada Nabi Muhammad ﷺ, serta pengingat akan pentingnya mengendalikan nafsu dan meneladani akhlak beliau.

