
gasanbalangan.online – Jagung bajarang, jajanan sederhana yang pernah menjadi primadona anak-anak Balangan pada era 90-an, kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan warga. Makanan yang dibakar di atas bara kayu hingga menghasilkan aroma khas ini dulu menjadi bagian dari keseharian anak-anak, baik setelah pulang sekolah maupun sepulang mengaji di surau.
Pada masa itu, jagung bajarang tidak hanya menjadi camilan, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan. Anak-anak kerap berkumpul di halaman langgar atau halaman sekolah sambil menikmati jagung yang masih panas, lengkap dengan tawa dan cerita khas masa kecil.
Salah satu kebiasaan yang kini mulai langka adalah tradisi saling menukar atau gantian membeli jagung bajarang. Anak-anak yang selesai mengaji sering berkumpul dan jika salah satu membawa uang jajan, ia akan membelikan untuk teman dekatnya. Besoknya, giliran temannya yang gantian mentraktir.
Di sekolah pun, momen menukar jagung sering terjadi. Ada yang menukar bagian tengah yang lebih empuk dengan bagian ujung yang lebih manis, bahkan ada yang menukarnya dengan jajanan lain seperti es lilin atau kerupuk. Semua dilakukan dengan polos dan penuh kegembiraan.
Kini, jagung bajarang masih dapat ditemui di beberapa pasar tradisional dan acara kampung, namun suasana kebersamaan seperti era 90-an mulai jarang terlihat. Banyak warga dewasa yang tersenyum mengenang masa lalu ketika melihat jagung bajarang dijual, seolah membawa mereka kembali pada masa kecil yang sederhana namun penuh makna.
Nostalgia ini menjadi pengingat bahwa jajanan tradisional bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari cerita kehidupan warga Balangan yang tumbuh bersama kenangan manis masa lalu.

