
BALANGAN, gasanbalangan.online- Di tengah hamparan rawa luas Lajar Papuyuan, Lampihong, ada satu nama yang selalu diingat dengan hangat oleh para transmigran.
Edy Junaidi, S.Sos. Bagi mereka, ia bukan sekadar pendamping, bukan pula sekadar pejabat lapangan. Ia adalah sosok yang hadir ketika harapan nyaris hilang, seorang pemimpin yang melihat cahaya justru saat wilayah itu tertutup air bah.
Awal Perjalanan, Edy, jejak yang dimulai dari tanah asing
Sebelum dikenal sebagai “Bapak Transmigrasi”, Edy memulai langkahnya sebagai TKPMP dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kalsel. Ia berpindah-pindah, dari UPT Pawalutan, Banjang Amuntai (2003–2004) hingga UPT Tawahan Balangan (2005–2006), mendampingi warga yang mencoba memulai hidup baru di tanah yang bukan milik mereka sebelumnya.
Namun, panggilan tugas terbesarnya datang pada tahun 2008, UPT Lajar Papuyuan, titik terpencil yang kelak membentuk reputasinya.

Tahun Banjir Besar 2008, ketika air menjadi lawan sekaligus kawan. Tahun itu, sekitar 180 Kepala Keluarga dari berbagai provinsi tiba hampir bersamaan. Mereka membawa harapan, tetapi yang menyambut justru banjir setinggi pinggang orang dewasa yang merendam 3.000 hektar lebih lahan.
Sebagian warga menangis, sebagian putus asa, sebagian menggenggam harapan yang hampir lepas.
Di tengah kepanikan itu, Edy berdiri di antara genangan, menatap air dengan tenang.
“Air ini jangan dianggap musuh. Jadikan kawan. Ini nikmat Tuhan. Suatu hari, di sini bisa jadi kawasan wisata edukasi berbasis air,” katanya kepada warga.
Kalimat itu sederhana, tetapi menjadi jangkar emosional yang membuat warga bertahan.

Sebagai Kepala UPT, Edy tidak memimpin dari balik meja. Ia memimpin dari perahu ces kecil yang setiap harinya ia gunakan untuk menyusuri banjir.
Bersama staf setianya Supriadi, Annor, Kawi, dan Zaenal Edy mengutamakan tiga hal, pertama jatah hidup tepat waktu, meski harus menantang ombak
Distribusi Jadup diantar hingga kantor UPT yang jaraknya 4 km. Perahu sering hampir terbalik, namun baginya integritas adalah segalanya: bantuan harus sampai, apa pun risikonya.
Kedua menenangkan warga dengan informasi dan kehadiran. Ia menggandeng puskesmas, mendirikan Radio Transmigrasi, dan hadir bahkan pada malam hari hanya untuk memastikan warga tidak merasa sendirian. Dari sinilah julukan “Bapak Transmigrasi” lahir.
Ketiga pendidikan untuk anak-anak. Ia memperjuangkan layanan belajar di balai desa hingga berdirinya sekolah formal dan TK Dewi Sri, agar anak-anak tumbuh tanpa rasa tertinggal.
Ketika harapan mengapung di atas bambu, saat teori pertanian tak lagi berlaku karena semuanya terendam, Edy mengajak warga melakukan hal yang tampak mustahil, bertani di atas lanting bambu.
Warga yang mengikuti gerakannya akhirnya bisa memanen cabai, serai, hingga padi dari kebun terapung itu. Di tengah air yang tak mau surut, lanting-lanting itu menjadi simbol bahwa manusia bisa beradaptasi asal ada yang memimpin untuk memulai.
Ikatan antara Edy dan warga begitu kuat. Nama-nama seperti Aud Tahyudin, Naryo, Sahur, Panut Riyanto (alm), Sony Setyawan, Sumino, serta mitra lapangan Bapak Ani, menjadi bagian dari kisah hidupnya. Mereka bukan hanya warga binaan mereka adalah keluarga.

Warisan yang diakui waktu itu, dua dekade berlalu. Banyak cerita transmigrasi memudar, tetapi nama Edy Junaidi tetap diingat. Pada Februari 2025, warga yang dulu ia dampingi mengusulkan dan mengangkatnya sebagai Ketua DPC PATRI Balangan, sebuah pengakuan moral yang lahir dari rasa hormat, bukan sekadar struktur organisasi.
SK dari DPP PATRI Pusat turun, dan ia dikukuhkan oleh Ketua PATRI Kalsel, Ir. Surinto menandai bahwa kisah masa lalu kini menjadi warisan bagi generasi kedua transmigran.
Kini Edy, mengabdi dengan cara berbeda, Edy bertugas di Kementerian Agama Balangan, tetapi semangatnya tetap sama mengabdi untuk masyarakat.
Pengalamannya yang teruji oleh banjir, tekanan, dan harapan manusia, menjadikannya sosok yang layak dihadirkan sebagai inspirasi. Di tengah upaya pemerintah membangun kawasan transmigrasi yang berkelanjutan, pengalaman Edy bukan hanya catatan masa lalu tetapi modal masa depan.
Air banjir mungkin pernah menenggelamkan pemukiman transmigran Lajar Papuyuan. Namun, jejak kepemimpinan Edy Junaidi tak pernah tenggelam. Ia tetap mengapung di ingatan banyak orang seperti lanting-lanting bambu tempat warga dulu menumbuhkan asa.
Karena pada akhirnya, transmigrasi bukan hanya soal memindahkan manusia.
Tetapi memindahkan harapan. Dan Edy Junaidi adalah salah satu penjaga harapan itu. [gasanbalangan]

