
Lampihong, gasanbalangan– Di tengah kemajuan zaman dan perubahan gaya hidup masyarakat modern, Kabupaten Balangan masih menyimpan beragam warisan budaya yang terus dijaga hingga kini. Salah satunya adalah tradisi Balawang Tujuh, upacara adat perkawinan khas masyarakat Banjar yang masih lestari di sejumlah desa, terutama di Kecamatan Lampihong dan sekitarnya.
Tradisi Balawang Tujuh atau Lawang Tujuh berasal dari kata “lawang” yang berarti pintu, dan “tujuh” sebagai lambang jumlah gerbang yang harus dilalui pasangan pengantin. Dalam prosesi ini, pengantin berjalan melewati tujuh pintu yang disusun berjajar, biasanya dibuat dari kain sarung atau tali, diiringi nyala obor dan musik panting tradisional Banjar yang menambah kesakralan suasana malam.
BACA JUGA:
- Memberi Makanan dan Minuman, Sedekah Sederhana yang Paling Berpengaruh di Hari Jumat
- Jumat Ini, Balangan Berawan dan cukup dinamis
- Cuaca Balangan Diprediksi Berawan, Hujan Petir Ancam Siang Hari
- Kinerja Kepala Daerah Banyak Diadukan Ke Kemendagri Sepanjang 2025
- DESA BINJAI BANGUN JEMBATAN ULIN UNTUK KELANCARAN AKTIVITAS PERTANIAN
Ritual ini bukan sekadar hiburan atau hiasan dalam pesta pernikahan. Di balik tujuh pintu yang diterangi obor, tersimpan makna mendalam tentang perjalanan hidup berumah tangga. Setiap pintu melambangkan tahap atau rintangan yang harus dilewati pasangan dengan kebersamaan dan kesetiaan. Api yang menyala menjadi simbol penerang, semangat, dan harapan agar rumah tangga yang baru dibangun selalu terjaga dari hal-hal buruk.
Pelaksanaan Balawang Tujuh biasanya dilakukan pada malam hari setelah acara akad dan resepsi siang. Suasana halaman rumah pengantin dihiasi obor dan tenda sederhana. Warga sekitar turut membantu menyiapkan tempat, musik, hingga menjaga obor agar tetap menyala selama prosesi berlangsung. Semangat gotong royong dan kebersamaan masyarakat menjadi bagian penting dalam tradisi ini.
Selain nilai simbolis dan sosial, tradisi Balawang Tujuh juga memiliki manfaat kultural dan ekonomi. Masyarakat dapat mengembangkan potensi pariwisata budaya dengan menampilkan prosesi ini dalam festival atau event daerah. Beberapa desa bahkan mulai menjadikannya bagian dari promosi wisata adat di Balangan.
Di tengah derasnya arus modernisasi, Balawang Tujuh menjadi pengingat kuat akan pentingnya menjaga warisan budaya Banjar yang berakar dari nilai-nilai luhur, kebersamaan, dan penghormatan terhadap kehidupan berkeluarga. Melalui pelestarian tradisi ini, masyarakat Balangan tidak hanya merawat identitas, tetapi juga menanamkan pesan moral kepada generasi muda tentang makna perjalanan hidup yang penuh cahaya dan harapan.
Artikel: Dari beberapa sumber

