
RELIGI, gasanbalangan– Di tengah derasnya arus perubahan zaman, Qasidah Burdah karya Imam Al-Bushiri tetap menjadi oase spiritual yang meneduhkan hati umat Islam. Karya yang lahir dari luapan cinta dan kerinduan kepada Rasulullah SAW ini bukan sekadar rangkaian puisi indah, melainkan cermin ketulusan jiwa yang rindu akan sosok pembawa rahmat bagi seluruh alam.
BACA JUGA:
- Memberi Makanan dan Minuman, Sedekah Sederhana yang Paling Berpengaruh di Hari Jumat
- Jumat Ini, Balangan Berawan dan cukup dinamis
Dalam sepuluh ayat pertama Pasal 1, Al-Bushiri menuturkan pergulatan batin seorang hamba yang mencoba menyembunyikan cinta sucinya kepada Nabi, namun tak kuasa menahan gejolak rindu. Ia menggambarkan bagaimana cinta kepada Rasul bukan sekadar ucapan di bibir, tetapi getaran yang menghidupkan nurani, menundukkan kesombongan, dan menumbuhkan harapan akan ampunan Allah SWT.
Makna mendalam Qasidah Burdah terasa relevan bagi kehidupan masa kini. Saat banyak orang sibuk mengejar dunia dan melupakan teladan Rasulullah, qasidah ini hadir mengingatkan bahwa ketenangan sejati tidak terletak pada harta atau jabatan, tetapi pada cinta dan ketaatan kepada Nabi. Ia mengajarkan bahwa kasih sayang, kesabaran, dan kejujuran adalah cermin cinta sejati yang harus dihidupkan kembali dalam diri setiap muslim.
Dampak spiritual dari pembacaan Qasidah Burdah bukan hanya menenangkan hati, tetapi juga memperkuat identitas keislaman dan persaudaraan di tengah masyarakat. Di banyak majelis, qasidah ini menjadi perekat ukhuwah, memperhalus akhlak, serta menghidupkan suasana zikir yang penuh keberkahan.
Dan yang paling berharga, pahala bagi mereka yang membaca dengan keikhlasan begitu besar. Ulama berpendapat bahwa siapa pun yang melantunkannya dengan niat mencintai Rasulullah akan memperoleh limpahan rahmat, dilapangkan rezeki, dijauhkan dari bala, serta diberi syafaat di hari akhir.
Qasidah Burdah bukan sekadar karya sastra Islam klasik. Ia adalah jembatan ruhani antara manusia dengan Nabinya, cahaya pengingat di tengah gelapnya zaman, dan penguat iman di masa ketika cinta sejati kerap tergantikan oleh dunia yang semu.
[Tim Redaksi]
(Diambil dari beberapa sumber)

