Paringin, gasanbalangan.online,- Di tengah tenangnya Desa Hujan Mas, Kecamatan Paringin, Kabupaten Balangan, berdiri sebuah masjid tua yang memancarkan aura sejarah Masjid Syuhada.
Sekilas melihat bangunannya saja, Anda mungkin langsung merasakan bahwa tempat ini bukan masjid biasa.
Atapnya yang klasik, dindingnya yang dipenuhi jendela kaca, serta suasananya yang teduh seolah membawa kita ke masa lalu.
“Begitu saya datang pertama kali ke sana, rasanya seperti menyentuh jejak zaman,” ungkap seorang warga setempat.
Menurut berbagai sumber, Masjid Syuhada merupakan salah satu bangunan cagar budaya di Kabupaten Balangan. Ia bahkan tercatat sebagai masjid tertua kedua di Balangan, setelah Masjid Jannatul Ma’wa yang berada di Kecamatan Juai.

Pesona Arsitektur yang Sarat Nilai Sejarah
Dari sisi samping, masjid ini tampak menawan dengan deretan jendela kaca besar yang mengelilingi dindingnya. Cahaya matahari masuk lembut ke ruang dalam, menciptakan suasana hangat yang menenangkan hati siapa pun yang beribadah di dalamnya.
Namun, beberapa bagian seperti plafon dan lantai teras terlihat telah diperbarui. Meski renovasi ini sedikit mengubah keaslian, upaya tersebut bisa dimaklumi demi menjaga kenyamanan jamaah dan memperpanjang usia bangunan.
“Renovasi memang tak terhindarkan, tapi yang penting ruh sejarahnya tetap hidup,” ujar seorang tokoh masyarakat Hujan Mas.

Kokoh Berkat Tiang-Tiang Ulin Raksasa
Masuk ke dalam, Anda akan dibuat takjub oleh belasan tiang besar dari kayu ulin utuh. Kayu ulin atau yang dikenal sebagai kayu besi adalah bahan bangunan khas Kalimantan yang terkenal kuat dan anti rayap.
Konon, ada sekitar 15 tiang ulin di dalam Masjid Syuhada, dan satu tiang utama di bagian tengah dengan diameter lebih dari setengah meter serta tinggi mencapai delapan meter yang menjadi penopang kubah utama.
Dulu, pohon ulin berukuran raksasa masih mudah ditemukan di hutan Kalimantan. Kini, keberadaannya makin langka. Bahkan, kayu ulin sempat masuk daftar tanaman yang dilindungi, sebelum akhirnya dikeluarkan dari daftar itu lewat Permen LHK No. 106 Tahun 2018.
Warisan Zaman yang Tetap Hidup
Kayu ulin yang mampu bertahan ratusan tahun menjadi saksi perjalanan waktu. Di antara ukiran usia dan perubahan zaman, Masjid Syuhada tetap berdiri kokoh, menjaga identitas Islam dan budaya Banjar di tanah Balangan.
Bagi warga sekitar, masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan warisan leluhur yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Masjid ini simbol perjuangan dan keimanan. Setiap tiangnya punya cerita,” kata seorang jamaah senior sambil menatap langit-langit kayu yang masih asli.
Masjid Syuhada Hujan Mas adalah permata tua yang masih bersinar di antara geliat modernisasi Balangan. Ia mengingatkan kita bahwa kemajuan bukan berarti melupakan sejarah sebab dari fondasi masa lalu, lahirlah kekuatan masa depan.
[Tim Redaksi].

